IPTEK DALAM ISLAM
Nama : Rudi Kurniawan
Jurusan : S1 Pendidikan
Matematika
Semester : 2
Kampus : Institut Teknologi dan
Science Nahdlatul Ulama Pasuruan
Tahun : 2019
Dosen Pengempu : Muhammad Mukhlis, M.Pd
Problem atau Masalah : Pentingnya Menuntut Ilmu
Ilmu?
Ilmu menjadi bukti kontribusi
bagi peradaban dunia. Sejarah Islam telah menunjukkan hal tersebut.
Tidak ada agama yang begitu serius mengatur persoalan ilmu dan pendidikan, selain agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Agama yang diridhai Allah Ta`ala ini, menempatkan ilmu pada posisi yang luar biasa, sehingga umat Islam diwajibkan untuk menuntutnya.
Tidak ada agama yang begitu serius mengatur persoalan ilmu dan pendidikan, selain agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Agama yang diridhai Allah Ta`ala ini, menempatkan ilmu pada posisi yang luar biasa, sehingga umat Islam diwajibkan untuk menuntutnya.
Ada beberapa hadits yang menjadi
rujukan mengenai hal tersebut. Di antaranya adalah “Menuntut ilmu adalah wajib
atas setiap muslim” (HR.Bukhari); “Barangsiapa berjalan di satu jalan dalam
rangka menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalan menuju surga. Dan sesungguhnya
malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penunutu ilmu tanda ridha dengan yang
dia perbuat”(HR.Muslim); “Barangsiapa keluar dalam rangka mencari ilmu, maka
dia berada di dalam jalan Allah hingga kembali” (HR. Tirmidzi); dan dalam
hadits yang diriwayatkan Ar Rabii’, Rasulullah SAW bersabda, “Tuntutlah ilmu,
sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla.
Sedangkan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah.
Sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan
akhirat.”
Bahkan dalam al-Quran terdapat
ayat-ayat yang menegaskan pentingnya mencari, mempelajari, dan menjadi orang
berilmu. Di antaranya ” …Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan,
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S.Al-Mujaadilah [58] : 11);
”Katakanlah: ’Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang
tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran” (Q.S. Az-Zumar [39]: 9); “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di
antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang yang berilmu (ulama)” (Q.S.Fathir [35]:
28); dan ayat-ayat lainnya.
Meski
memang sangat dianjurkan, namun dalam menuntutnya tidak sembarang ilmu. Ilmu
yang wajib dituntut oleh umat Islam adalah ilmu yang bermanfaat, yang benar,
yang bisa mendekatkan kepada Allah, dan mendapatkan kebahagiaan bagi diri,
keluarga, dan masyarakat, serta bermanfaat di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW
bersabda, “Apabila anak cucu Adam wafat, maka terputuslah amalannya kecuali
tiga perkara: shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang
mendoakan orangtuanya” (HR.Muslim). Salah satu jenis ilmu yang termasuk dalam
hadits tersebut, adalah ilmu agama dan ilmu-ilmu umum lainnya yang banyak
bersinggungan dengan kehidupan umat Islam. Adapun ilmu yang tidak manfaat,
bahkan terlarang adalah ilmu sihir, ilmu meramal (astrologi), ilmu-ilmu umum
atau teknologi yang digunakan di jalan kemaksiatan, kedurhakaan, atau yang
dapat menghancurkan bangsa.
Mengingat pentingnya menuntut
ilmu yang bermanfaat, Rasulullah SAW sendiri dalam sebauh riwayat pernah memohon
dalam salah satu doanya, “Allaahumma inni a’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’u
(Ya, Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat).
Ada dialog Nabi Daud a.s yang menerima wahyu dari Allah. Allah berfirman, “Wahai, Dawud, pelajarilah ilmu yang bermanfaat.”
Ada dialog Nabi Daud a.s yang menerima wahyu dari Allah. Allah berfirman, “Wahai, Dawud, pelajarilah ilmu yang bermanfaat.”
“Ya, Rabbi, apakah ilmu yang
bermanfaat itu?” tanya Nabi Daud a.s.
Allah berfirman, “Ialah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui keluhuran, keagungan, kebesaran, dan kesempurnaan kekuasaan-Ku atas segala sesuatu. Inilah yang mendekatkan engkau kepada-Ku”.
Allah berfirman, “Ialah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui keluhuran, keagungan, kebesaran, dan kesempurnaan kekuasaan-Ku atas segala sesuatu. Inilah yang mendekatkan engkau kepada-Ku”.
Jelas dari hadits qudsi ini bahwa
ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang bisa membuat kita semakin mengenal
Allah, dekat kepada Allah, dan yang bisa meningkatkan keimanan kita kepada
Allah Ta`ala.
Lalu, apa yang akan kita dapatkan
dengan menuntut ilmu?
Selain bisa mengangkat derajat,
ilmu juga bisa menurunkan derajat manusia hingga membawa kehancuran. Nuklir
atau senjata modern yang digunakan menghancurkan negara yang tak jelas dosanya,
menjadikan pelakunya mendapat cemoohan dan hujatan, sehingga wibawa
kemanusiaanya tak dihargai lagi dunia. Contohnya Amerika Serikat dan Israel
serta sekutunya, hingga kini citranya buruk di mata dunia.
Hikmah lainnya, ilmu menjadi
bukti kontribusi bagi peradaban dunia. Sejarah Islam telah menunjukkan hal
tersebut. Misalnya tentang ilmu al-jabar atau algoritma dikembangkan oleh
Al-Khawarizmi; bidang kedokteran oleh Avicenna (Ibnu Sinna); bidang ilmu sosial
dan filsafat oleh Averroes (Ibnu Rusyd); bidang sejarah dan sosiologi oleh Ibnu
Khaldun; bidang ilmu jiwa dan spiritual oleh Imam Al-Ghazali; bidang politik
dan kosmologi oleh Farabi dan Al-Kindi; bidang hukum dan ekonomi Islam oleh
para fuqaha(Imam Ja`far Ash-Shadiq, Imam Asy-Syafi`i, Imam Ahmad bin Hambali,
Imam Malik bin Anas, dan Abu Hanifah); bidang sastra dan bahasa oleh Ibnu
Thufail; dan tokoh-tokoh muslim lainnya.
Di masa sekarang pun kita
mengetahui beberapa tokoh muslim yang berhasil mendapatkan penghargaan dunia
atau nobel, seperti Abdussalam dalam bidang sains dan Muhammad Yunus di bidang pemberdayaan
masyarakat.
Mereka menjadi terkenal di dunia
ilmu pengetahuan karena ketekunannya dalam menuntut ilmu sehingga berhasil
meraih prestasi yang gemilang. Para tokoh tersebut tetap saja dikenang meski
telah wafat. Jelaslah bahwa dengan menuntut ilmu dan belajar, derajat manusia
terangkat dan menjadi teladan sepanjang sejarah. Karena itu, sungguh tidak
sesuai dengan landasan agama bila seorang muslim tidak belajar atau menuntut
ilmu sepanjang hidupnya.